Martabak jadi jajanan malam favorit di banyak kota Indonesia, ada dua jenis utama: martabak telur yang gurih dan martabak manis yang legit. Keduanya sama-sama digoreng atau dipanggang dengan banyak minyak dan margarin, jadi kalorinya jauh lebih tinggi dari yang kelihatan di kemasan kotaknya.
Alodokter mencatat martabak telur mini (sekitar 50 gram) mengandung 120-170 kalori, ukuran sedang (100 gram) di kisaran 250-350 kalori. Begitu naik ke satu porsi utuh (400-500 gram), kalorinya melonjak jadi 1.000-1.500 kalori — setara dua kali makan besar sekaligus, menurut catatan RRI yang mengutip data yang sama.
Angka ini belum termasuk saus atau acar cabai yang biasa jadi pelengkap. Kalau porsi utuh dimakan sendirian tanpa dibagi, satu kali makan malam saja sudah bisa melewati separuh kebutuhan kalori harian orang dewasa.
Untuk martabak manis, FatSecret Indonesia mencatat satu potong (sekitar 90 gram) mengandung 270 kalori, dengan lemak 11,3 gram dan karbohidrat 37,4 gram. Buku Smart Eating — 1000 Jurus Makan Pintar dan Hidup Bugar mencatat angka serupa, 265 kalori per potong. Dua sumber ini konsisten di kisaran 265-270 kalori.
Kalori itu setara sekitar seperempat kebutuhan kalori harian orang dewasa (2.000-2.500 kalori), menurut Halodoc. Sumber kalorinya bukan cuma dari tepung dan gula, tapi juga margarin dan susu kental manis yang biasa disiram di atasnya sebelum dilipat.
Alodokter menyarankan konsumsi martabak telur maksimal seminggu sekali, dan memilih porsi kecil atau berbagi dengan orang lain alih-alih menghabiskan satu porsi sendirian. Mengurangi saus manis atau sambal instan yang menyertainya juga membantu menekan tambahan gula dan garam.
Martabak tetap bisa dinikmati sesekali sebagai camilan malam. Yang perlu diperhatikan adalah porsinya — satu potong sedang jauh lebih aman dibanding menghabiskan satu porsi utuh sendirian, apalagi kalau sudah makan besar di hari yang sama.
Kalau situs ini kepakai, bantu sebarin biar makin banyak yang ketolong.